Suatu waktu di malam hari sebuah kisah histori yang ironis kembali terukir dengan sebuah luka yang di buat oleh sikap pribadi seorang feminim, tepat di depan mata, sikap itu tak disangka ada dalan dirinya, dengan mengedepankan sakit hatinya si feminim mengeluarkan sikap itu. Ibarat sedekah yang tak di terima, sehina apa orang itu sehingga sedekahnya pun tak di harapkan oleh siapa pun?. si feminim mungkin tak memikirkan itu sebab sakit hati nya tak bisa lagi ia kontrol, tampak polos tak menghiraukan yang ia lakukan itu telah memberi luka di depan banyak orang. lantas apa lagi kata yang harus terucap ketika sikap itu terlihat di depan mata?.
Sakit melihat sikap ia nampakan, si penikmat melontarkan prilaku lucu nya agar rasa sakit itu tak transparan. Harapan paling mendalam sipenikmat sikap ironis si feminim, agar kiranya si feminim dapat mengontrol prilakunya kepada orang lain. Bukan hanya orang yang di beri sikap itu yang merasakan malu atau pun kecewa, tapi si penikmat yang berada di sekelilingnya juga merasakan kekecewaan terhadap si feminim.
Bukan sekedar ucapan kecewa lantas hal ini tidak di hiraukan namun, sebuah prilaku yang di ibaratkan "sebagai sedekah yang tidak diharapkan orang lain" ini menjadi satu sikap prihatin terhadap sesama manusia. Bukan pula karena si feminim lebih bermartabat hingga sikap itu ia perlihatkan, sangat miris dan sangat ironis, bahkan sikap itu akan di kategorikan sebagai sikap jahilia oleh banyak orang.
Menurut hemat si penikmat prilaku ironis ini harusnya sikap yang di iabaratkan menolak sedekah orang lain kepada kita, sudah lama hilang di zaman jahilia. Di mana zaman itu kritik dan tanggapan tidak begitu di perdulikan. Zaman ini pendidikan telah di setarakan lantas apa tujuan sikap prilaku itu di terapkan?
hanya kamu yang tau!!
Tidak nampak namun mampu menyentuh rasa terdalam hingga raga tak lagi terlihat seperti biasanya.
penulis
penikmatprilakuironis
M. NASRULLAH YUSUF
Tidak ada komentar:
Posting Komentar